Product Catalogue | New Products | The Carver |Your Cart (0) | Shipping

Pura Lempuyang Luhur


Pura Lempuyang Luhur

     Pura ini terletak di Puncak Bukit Bibis atau Gunung Lempuyang, tepatnya di desa Purahayu Kec Abang, Karangasem. Pura ini diduga termasuk paling tua keberadaannya di Bali. Bahkan sudah ada pada zaman pra – Hindu-Budha. Semula bangunan sucinya terbuat dari batu. Dewa yang diistanakan disini, yakni Hyang Gni Jaya atau Dewa Iswara.

    Ada sebuah informasi yang kiranya cukup menarik. Berdasarkan pemotretan dari angkasa luar, di ujung timur Pulau Bali muncul sinar yang amat terang. Sinar itu paling terang dibandingkan bagian lainnya. Namun tak diketahui pasti dari kawasan mana sinar itu, tetapi diduga dari Gunung Lempuyang.

    Lempuyang berasal dari kata ‘lampu’ yang artinya sinar dan ‘hyang’ untuk menyebut Tuhan. Dari kata itu lempuyang diartikan sinar suci Tuhan yang terang benderang. Ada juga versi  lain yang menyebutkan lempuyang adalah sejenis tanaman yang dipakai bumbu masak. Hal itu juga dikaitkan dengan nama banjar di sekitar Lempuyang yaitu Bajar Bangle dan Gamongan. Bangle dan Gamongan merupakan tanaman sejenis yang bias dipakai obat dan bumbu. Versi lain ada juga yang menyebut lempuyang berasal dari kata ‘empu’ atau ‘emong’ yang diartikan menjaga. Bhatara Hyang Pasupati mengutus tiga putranya turun untuk mengemong guna menjaga kestabilan Bali dari berbagai guncangan bencana alam.

    Pura Lempuyang memiliki status penting, sama seperti Pura Besakih. Baik dalam konsep padma bhuwana, catur loka pala ataupun dewata nawa sanga. Dalam berbagai sumber lontar atau prasasti kuno, ada tiga Pura besar yang sering disebut selain Besakih dan Ulun Danu Batur yakni Pura lempuyang.

    Sekitar tahun 1950 ditempat didirikannya Pura Lempuyang Luhur kini, baru ada tumpukan batu dan sanggar agung yang dibuat dari pohon hidup. Dibagian timur berdiri sebuah pohon sidhakarya besar yang kini sudah tidak ada lagi. Diduga pohon itu tumbang atau mati pelan-pelan tanpa ada generasi baru menggantikannya. Barulah pada tahun 1960 dibangun dua padma kembar, dan sebuah padma tunggal bale piyasan.

     Mengutip sejumlah sumber kuno, Jero Mangku Gede Wangi, pemangku di pura itu mengatakan, orang Bali apapun wangsanya tak boleh melupakan pura ini. Sebab,jika tidak pernah atau lupa memuja Tuhan yang manifestasinya berstana di pura ini, selama hidup bias  tak pernah menemukan kebahagiaan, seringkali cekcok dengan keluarga atau dengan masyarakat dan bahkan pendek umur.

    Kewajiban masyarakat Bali untuk memuja Bhatara Hyang Gni Jaya di Lempuyang Luhur disebutkan dalam bhisama Hyang Gni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana sebagai berikut ;

Wastu kita wong Bali, yan kita lali ring kahyangan, tan bakti kita ngedasa temuang sapisan, ring kahyangan ira Hyang Agni Jaya, moga-moga kita tan dadi jadma, wastu kita ping tiga kena saupa drawa

    Jero Mangku Gede Wangi mengatakan, untuk memulai belajar ilmu pengetahuan, apalagi ilmu keagamaan hindu, sangat baik jika dimulai dengan memohon restu di Pura Lempuyang Luhur. Jero Mangku juga menyampaikan, di Pura lempuyang Luhur terdapat tirtha pingit di pohon bamboo yang tumbuh di areal pura. Saat umat nunas tirtha, pemangku pura usai ngaturang panguning akan memotong sebuah bamboo. Air suci dari bamboo itu di pundut untuk muput berbagai upacara, kecuali manusa yadnya. Siapapun tak boleh berbuat buruk seperti campah di pura, jika tak ingin kena mara bahaya.

Langgar Pantangan bisa Sengkala

     Ada sejumlah pantangan yang jika dilanggar bias berakibat buruk. Saat naik ke lempuyang Luhur, sejak awal, pikiran, perkataan, dan perbuatan harus disucikan. Tidak boleh berkata kasar saat perjalanan. Selain itu orang cuntaka, wanita haid, menyusui, anak yang belum tanggal gigi susu sebaiknya jangan dulu masuk pura atau sembahyang ke  pura. Konon pernah ada rombongan orang sembahyang dari Negara. Rupanya, sebelum ke lempuyang, mereka melayat orang meninggal lebih dahulu. Mobil rombongan itu pun jatuh dan terperosok karena tidak bias naik ditanjakan. Selain sejumlah larangan itu, umat yang hendak nangkil dilarang memakai perhiasan emas, karena perhiasan itu bias hilang misterius. Membawa atau makan daging babi saat ke lempuyang juga sebaiknya dihindari, karena daging babi itu terbilang cemer. Pantangan ke Pura Lempuyang Luhur hampir sama dengan nangkil ke Puru Luhur Batukaru.

Potongan Gunung Mahameru

     Menurut sumber, Lempuyang Luhur dan pura sad kahyangan lainnya didirikan pada abad ke-11 masehi, saat mpu Kuturan mendampingi Raja Udayana memerintah Bali bersama permaisurinya. Dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul dinyatakan; Sang Hyang Parameswara membawa gunung-gunung yang ada di Bali dari Jambhudwipa ( India ), dari Gunung Mahameru. Potongan Gunung Mahameru itu dibawa ke Bali dan dipecah menjadi tiga bagian besar dan juga bagian-bagian kecil. Bagian tengahnya dijadikan Gunung Batur dan Rinjani, sedangkan puncaknya menjadi Gunung Agung. Pecahannya yang lebih kecil menjadi deretan gunung-gunung di Bali yang berhubungan satu sama lainnya. Gunung-gunung tersebut adalah Gunung Tapsahi, Pengelengan, Siladnyana, Beratan, Batukaru, Nagaloka, Pulaki, Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, Padang Dawa, Andhakasa, Uluwatu, Sraya, dan gunung lempuyang. Gunung-gunung itu sebagai stana para Dewa manifestasi Tuhan untuk menjaga Bali.

    

Contact
Jl. Pulau Roti, No. 21 Denpasar-Bali
//Phone
+62 87 888 7777 43  ||  +62 361 8474064
info@balicarvingproducts.com  ||  balicraft@rocketmail.com
FB : Bali Tour & Travel




 

Jl. Pulau Moyo, Gg Cemara A No.4, Pedungan, Denpasar - Bali
Phone. +62 (0) 361 8474064 | Mobile. +62 8788 8777 743 | Email. info@balicarvingproducts.com
Copyright © Bali Carving Products | All Rights Reserved | Powered By Baligatra
website counter

 
Facebook Twiter Youtube Link Google
This is replica watches only green water ghost is November 26, 2014 replica watches uk, Hong Kong Christie's replica watches uk sale auction on the auction, number 2203 rolex replica.