Product Catalogue | New Products | The Carver |Your Cart (0) | Shipping

Perang Pandan


Peserta Perang Pandan

      Perang pandan adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Tenganan, Kecamatan Karangasem, Bali. Perang pandan juga disebut dengan istilah makere-kere. Upacara perang pandan menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing. Peran pandan merupakan salah satu tradisi yang dilakukan untuk menghormati dewa Indra atau Dewa perang. Perang pandan merupakan bagian dari ritual Sasihh Sembah. Sasih sembah ialah ritual terbesar yang ada di Desa Tenganan.

Sejarah

     Masyarakat Desa Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dari umumnya masyarakat Bali. Masyarakat di Desa Tenganan menganut agama Hindu Indra. Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta. Mereka juga menempatkan Dewa Indra sebagai Dewa tertinggi. Masyarakat Tenganan percaya bahwa desa yang mereka tempati merupakan hadian dari Dewa Indra.

     Jaman dahulu daerah Tenganan di pimpin oleh seorang raja yang kejam bernama Maya Denawa. Maya Denawa menganggap dirinya sebagai seorang Dewa. Selain menganggap dirinya Dewa, Maya Denawa juga melarang masyarakat Tenganan untuk melakukan ritual keagamaan. Pengakuan Maya Denawa sebagai dewa membuat murka para Dewa, kemudian Dewa Indra diutus untuk melawan Maya Denawa. Peperangan antara Maya Denawa dan Dewa Indra dimenangkan oleh Dewa Indra. Peperangan antara Maya Denawa dan Dewa Indra tersebut kini di peringati masyarakat Desa Tenganan dengan upacara perang pandan, karena Dewa Indra adalah dewa perang.

Tempat

     Upacara perang pandan dilaksanakan di Desa Tenganan. Tenganan adalah salah satu desa tertua yang ada di pulau Bali. Desa ini dikelilingi oleh bukit seperti benteng. Ritual perang pandan dilakukan di depan balai pertemuan desa Tenganan.

Waktu pelaksanaan

     Perang pandan dilakukan setiap bulan kelima atau sasih kalima dalam penanggalan desa adat Tenganan. Ritual perang pandan berlangsung kurang lebih selama dua hari berturut-turut. Upacara ritual ini dilakukan setiap satu tahun sekali. Perang pandan dilaksanakan mulai dari jam 2 sore hingga selesai selama tiga jam.

Alat

    Tradisi perang pandan, dilakukan dengan menggunakan pandan berduri sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Peserta perang pandan juga sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan pada perang pandan terbuat dari rotan yang dianyam.

    Perang pandan diiringi musik gamelan seloding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah.

Peserta

    Perang pandan dilakukan oleh pemuda desa Tenganan dan luar desa Tenganan. Pemuda dari dalam desa berperan sebagai peserta perang pandan sedangkan pemuda dari luar desa sebagai peserta pendukung. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa juga sudah turut ambil bagian dalam upacara ini. Upacara ini juga dapat menjadi simbol seorang anak sudah beranjak dewasa.

Urutan acara

    Upacara perang pandan didahului dengan mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada Dewa. Setelah mengelilingi desa, kemudian dilanjutkan ritual minum tuak bersama. Tuak kemudian di kumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Perang dilakukan berpasangan yaitu sejumlah dua orang. Peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri pada peserta lainnya sealam datu menit lalu bergantian dengan pasangan lain. Meskipun tubuhnya berdarah, pada peserta tetap terlihat senang karena hal itu adalah salah satu ungkapan syukur mereka dan cara menghormati Dewa Indra. Setelah perang selesai peserta yang terluka diolesi ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit. Acara selanjutnya setelah perang usai adalah melakukan sembahyang di pure. Meskipun peserta terluka tetapi tidak ada dendam di antara peserta. Hal tersebut disimbolkan dengan makan bersama yang menunjukkan kebersamaan. Acara tersebut dinamakan megibung.

Pakaian

    Peserta perang pandan memakai pakaian adat Tenganan yang bernama kain tenun Pegringsingan. Masyarakat pria hanya menggunakan sarung atau disebut kamen, selendang atau disebut saput, dan ikat kepala atau udeng. Pria tersebut tidak mengenakan baju alias bertelanjang dada.

 

Contact
Jl. Pulau Roti, No. 21 Denpasar-Bali
//Phone
+62 87 888 7777 43  ||  +62 361 8474064
info@balicarvingproducts.com  ||  balicraft@rocketmail.com
FB : Bali Tour & Travel




 

Jl. Pulau Moyo, Gg Cemara A No.4, Pedungan, Denpasar - Bali
Phone. +62 (0) 361 8474064 | Mobile. +62 8788 8777 743 | Email. info@balicarvingproducts.com
Copyright © Bali Carving Products | All Rights Reserved | Powered By Baligatra
website counter

 
Facebook Twiter Youtube Link Google
This is replica watches only green water ghost is November 26, 2014 replica watches uk, Hong Kong Christie's replica watches uk sale auction on the auction, number 2203 rolex replica.